Pendahuluan: Firman Allah yang Diteruskan dari Generasi ke Generasi
Kisah Para Rasul 7:38 berkata:“Inilah dia yang berada dalam jemaah di padang gurun, bersama-sama dengan malaikat yang berfirman kepadanya di gunung Sinai, dan dengan nenek moyang kita; dialah yang menerima firman yang hidup untuk menyampaikannya kepada kita.”
Ayat ini mengingatkan bahwa Firman Allah yang hidup diterima, dijaga, dan diteruskan dari generasi ke generasi. Salah satu tonggak penting dalam sejarah penyampaian Firman adalah lahirnya Septuaginta — terjemahan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani. Mari kita mengenal lebih dekat sejarah Septuaginta dan relevansinya bagi iman Kristen.
1. Apa Itu Septuaginta?
Septuaginta adalah terjemahan Perjanjian Lama dari bahasa Ibrani ke bahasa Yunani yang dilakukan sekitar abad ke-3 sebelum Masehi di Aleksandria, Mesir. Nama Septuaginta berasal dari bahasa Latin yang berarti “tujuh puluh,” merujuk pada tradisi bahwa ada 70 (atau 72) sarjana Yahudi yang menerjemahkannya.
Terjemahan ini lahir karena banyak orang Yahudi pada masa itu sudah tidak lagi fasih berbahasa Ibrani, melainkan menggunakan bahasa Yunani sebagai bahasa sehari-hari. Septuaginta membuat Firman Allah dapat diakses oleh lebih banyak orang.
2. Mengapa Septuaginta Penting dalam Sejarah Alkitab?
Septuaginta menjadi sangat penting karena:
- Akses universal: Membuka jalan agar bangsa-bangsa non-Yahudi dapat mengenal Firman Allah.
- Penggunaan di zaman Yesus dan para rasul: Banyak kutipan Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru berasal dari Septuaginta, bukan dari teks Ibrani langsung.
- Peran dalam gereja mula-mula: Jemaat Kristen perdana yang hidup di wilayah berbahasa Yunani menggunakan Septuaginta sebagai Kitab Suci mereka.
Dengan demikian, Septuaginta adalah jembatan yang menghubungkan umat Allah di Israel dengan dunia yang lebih luas.
3. Kisah Para Rasul 7:38 dan Keterkaitan dengan Septuaginta
Dalam Kisah Para Rasul 7:38, Stefanus berbicara tentang Musa yang menerima firman Allah untuk disampaikan kepada bangsa Israel. Firman yang sama itulah yang kemudian ditulis, disalin, dan diterjemahkan, termasuk ke dalam Septuaginta.
Melalui Septuaginta, “firman yang hidup” itu melampaui batas bahasa dan budaya. Hal ini menegaskan bahwa pesan Injil bukan hanya untuk satu bangsa, melainkan untuk seluruh umat manusia.
4. Septuaginta dan Kesaksian Yesus Kristus
Yesus sendiri, ketika mengajar, sering mengutip Perjanjian Lama. Dalam beberapa kasus, kutipan yang digunakan oleh penulis Injil lebih dekat dengan Septuaginta dibandingkan teks Ibrani. Ini menunjukkan bahwa Septuaginta berperan nyata dalam menyampaikan nubuat tentang Kristus kepada dunia berbahasa Yunani.
Dengan kata lain, Septuaginta menjadi alat penting yang dipakai Tuhan untuk menyiapkan jalan bagi kabar Injil. Tanpa terjemahan ini, mungkin penyebaran berita keselamatan ke dunia non-Yahudi tidak akan semudah dan secepat yang terjadi dalam gereja mula-mula.
5. Warisan Septuaginta bagi Gereja Masa Kini
Septuaginta tetap relevan bagi kita hari ini. Pertama, ia menunjukkan betapa Allah bekerja melalui sejarah dan budaya untuk memastikan Firman-Nya tetap hidup. Kedua, ia mengingatkan bahwa Injil bersifat inklusif — ditujukan bagi semua orang, tanpa memandang bahasa atau suku bangsa.
Bagi para penafsir Alkitab modern, Septuaginta juga menjadi sumber penting untuk memahami teks Perjanjian Lama, karena terkadang memberikan perspektif yang berbeda dari teks Ibrani yang ada sekarang.
Kesimpulan: Firman Allah yang Hidup Melintasi Zaman
Kisah Para Rasul 7:38 menegaskan bahwa Firman Allah adalah firman yang hidup, diwariskan dari Musa hingga kepada kita hari ini. Septuaginta adalah salah satu cara Allah bekerja untuk menjaga agar Firman-Nya tidak terkunci dalam satu bahasa atau satu bangsa, melainkan terbuka bagi dunia.
Sebagai orang percaya, kita diajak untuk bersyukur karena Firman Allah kini tersedia dalam begitu banyak bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Sejarah Septuaginta mengingatkan kita bahwa Allah senantiasa setia menjaga firman-Nya agar tetap menjadi terang dan penuntun hidup kita.
Kiranya kita semakin menghargai Alkitab sebagai Firman Allah yang hidup, yang mengajar, menghibur, dan meneguhkan iman kita di setiap zaman.
#Septuaginta #KisahParaRasul738 #SejarahAlkitab #FirmanAllah #PerjanjianLama #YesusKristus #ImanKristen #JalanKebenaran #KebenaranAlkitab #RenunganKristen
